40 Desa Tanpa Sinyal dan Mimpi Itu Bernama Masa Depan Digital
* Catatan Riswan Saya sering membayangkan Bengkulu seperti anak muda yang sebenarnya sangat berbakat. Alamnya indah, pantainya panjang, kopinya harum dan masyarakatnya ramah. Potensi ada di mana-mana. Tapi seperti anak […]
* Catatan Riswan
Saya sering membayangkan Bengkulu seperti anak muda yang sebenarnya sangat berbakat. Alamnya indah, pantainya panjang, kopinya harum dan masyarakatnya ramah. Potensi ada di mana-mana. Tapi seperti anak muda yang sedang mencari arah hidup, Bengkulu kadang masih butuh sedikit dorongan agar berani berlari lebih cepat.
Data dari Badan Pusat Statistik mencatat ekonomi Provinsi Bengkulu pada tahun 2025 tumbuh sekitar 4,8 persen dengan nilai ekonomi daerah mencapai sekitar Rp111 triliun. Angka ini memberi pesan sederhana: Bengkulu sebenarnya tidak diam. Roda ekonominya bergerak. Namun jika dibandingkan dengan provinsi lain di Sumatera, kita masih berada di posisi tengah. Bahasa sederhananya Bengkulu sudah berjalan, tapi belum sprint.
Di titik inilah saya melihat peran konkret Gubernur Helmi Hasan. Ia tidak hanya bicara tentang pembangunan, tetapi cukup aktif mengetuk pintu pemerintah pusat bertemu kementerian, membuka komunikasi dengan sektor telekomunikasi dan mendorong percepatan pembangunan jaringan internet desa. Targetnya jelas desa-desa Bengkulu harus masuk era digital, bukan sekadar jadi penonton.
Sebab kenyataan di lapangan masih terasa sedikit ironis. Di provinsi dengan lebih dari 1.500 desa, masih ada sekitar 40 desa yang mengalami blank spot internet. Di zaman orang bisa rapat lewat video call sambil menyeruput kopi, masih ada warga Bengkulu yang harus naik bukit dulu hanya untuk mencari satu garis sinyal. Kalau sinyal sudah muncul, rasanya seperti menemukan harta karun.
Padahal hari ini internet bukan lagi sekadar alat kirim pesan. Ia sudah menjadi urat nadi ekonomi modern.
Anak muda bisa membuka toko online, petani bisa mengecek harga komoditas, bahkan pelajar desa bisa belajar dari dunia tanpa harus meninggalkan kampungnya.
Dengan jumlah penduduk Bengkulu sekitar 2,1 juta jiwa yang tersebar di 10 kabupaten dan kota, potensi ekonomi sebenarnya sangat besar. Jika konektivitas digital merata, saya yakin UMKM, pertanian dan pariwisata Bengkulu bisa melesat jauh lebih cepat.
Karena itu bagi saya, 40 desa tanpa sinyal bukan sekadar masalah.
Di sanalah sebenarnya masa depan Bengkulu sedang tumbuh.
Jika keberanian untuk mempercepat pembangunan terus dijaga dan komunikasi pusat daerah terus dibuka saya percaya satu hal dari bukit tempat orang mencari sinyal hari ini, suatu saat akan lahir desa-desa digital yang menggerakkan masa depan Bengkulu.
*_Sidomulyo Gading Cempaka Bengkulu_*
Penulis Mahasiswa Pascasarjana pada Magister Ekonomi Terapan (MET) dan Magister Manajemen (MM) FEB Universitas Bengkulu










