Plat Luar Pulang ke Bengkulu Pajaknya Cuma Setengah
* Catatan Riswan Saya membaca kebijakan ini dengan satu pikiran sederhana kadang ekonomi daerah tidak perlu rumit, cukup sedikit akal sehat dan sedikit sentuhan hati. Di momen Idul Fitri ini, […]
* Catatan Riswan
Saya membaca kebijakan ini dengan satu pikiran sederhana kadang ekonomi daerah tidak perlu rumit, cukup sedikit akal sehat dan sedikit sentuhan hati.
Di momen Idul Fitri ini, Gubernur Helmi Hasan memberikan diskon 50% pajak kendaraan bagi kendaraan bernopol luar daerah yang melakukan proses Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor. Sekilas ini terlihat seperti program biasa. Tapi kalau kita lihat dari kacamata ekonomi daerah, sebenarnya ini langkah yang cukup strategis.
Data dari Badan Pusat Statistik menunjukkan ekonomi Bengkulu terus tumbuh stabil. Pada 2024, nilai PDRB Bengkulu mencapai sekitar Rp103,9 triliun dengan pertumbuhan sekitar 4,6%. Sementara pada 2025 diperkirakan menembus sekitar Rp111 triliun dengan pertumbuhan mendekati 4,8%. Artinya, mesin ekonomi Bengkulu sedang bergerak stabil.
Di sisi lain, jumlah kendaraan bermotor di Bengkulu sudah mencapai lebih dari 600 ribu unit. Kendaraan ini setiap hari menggunakan jalan Bengkulu, mengisi BBM di Bengkulu, bahkan mencari rezeki di Bengkulu. Tapi sebagian masih memakai plat luar daerah.
Bagi saya, ini seperti cerita klasik ekonomi daerah aktivitasnya di Bengkulu, tapi pajaknya mengalir ke tempat lain.
Di sinilah kebijakan diskon ini menjadi cerdas. Pemerintah tidak memilih jalan keras. Tidak ada razia besar-besaran atau ancaman denda. Yang ada justru pendekatan halus: “Kalau memang sudah lama tinggal di Bengkulu, mari kita resmikan saja.”
Secara ekonomi dampaknya tidak kecil. Jika 10–20 ribu kendaraan saja melakukan balik nama dengan rata-rata pajak sekitar Rp1–2 juta, potensi tambahan PAD bisa mencapai Rp20–40 miliar per tahun. Itu belum termasuk efek administrasi kendaraan yang lebih tertib.
Yang saya lihat, ini bukan sekadar program pajak. Ini cara pemerintah membaca psikologi masyarakat orang lebih mudah diajak daripada dipaksa.
Kadang pembangunan ekonomi daerah tidak dimulai dari proyek besar bernilai triliunan. Kadang justru dimulai dari hal kecil yang terasa di masyarakat.
Seperti sebuah pelat nomor yang akhirnya pulang ke rumahnya sendiri menjadi *BD*.
*_Sidomulyo Gading Cempaka Bengkulu_*
Penulis Mahasiswa Pascasarjana pada Magister Ekonomi Terapan (MET) dan Magister Manajemen (MM) FEB Universitas Bengkulu







