Beranda Nasional Memahami Politik Kekuasaan, Indonesia Saat Ini Disiklus yang Mana ?
Nasional

Memahami Politik Kekuasaan, Indonesia Saat Ini Disiklus yang Mana ?

* Oleh Ardiyanto/Anto Jeger (Jurnalis). Tulisan ini mencoba menjelaskan siklus politik dunia dalam 2000 tahun secara singkat. KALAU ada seorang Raja yang adil memerintah dengan bijaksana dan kekuatannya digunakan untuk […]

* Oleh Ardiyanto/Anto Jeger
(Jurnalis).

Tulisan ini mencoba menjelaskan siklus politik dunia dalam 2000 tahun secara singkat.

KALAU ada seorang Raja yang adil memerintah dengan bijaksana dan kekuatannya digunakan untuk kepentingan rakyat, sistem kerajaan ini dikenal dengan nama Monarki. Sistem kerajaan dimana kekuasaan tertinggi adalah seorang Raja.

Sejarah selalu berulang, ketika putranya dididik dengan Silver Spoon dan Golden Plater, mewarisi kekuasaan tanpa kerja keras, di sinilah perilaku manja dan apa saja yang dia mau harus dituruti, mulai dipaksakan. Karena sekarang dia bukan hanya sekedar anak raja yang manja, tapi sudah punya Power seorang raja. Bahkan, sejarah Dunia mencatat, baik itu di Inggris, Romawi Kuno, di Kerajaan Tiongkok Kuno, sang Raja yang mendapatkan kekuasaan karena turunan, yang mendapatkan jabatan tanpa usaha karena dibantu orangtuanya, mereka akan bertindak semau-maunya, dia mengambil apapun yang dia inginkan, bahkan istri orang lain pun diambil, nyawa orang lain pun diambil, inilah bagaimana Monarki membusuk menjadi Tirani.

Raja bengis, jahat ini bisa lama berkuasa karena membangun kekuatan “Reign Of Terror, menggunakan alat hukum, keamanan sebagai senjata tekan rakyatnya, sampai suatu hari rakyat sudah tidak tahan lagi, rakyat pun memberontak, rakyat menggulingkan kerajaan, membuang mahkota raja dan kekuasaan turunan itu.

Sejarah sekali lagi mencatat di Perancis, juga di Romawi Kuno, hal ini terjadi dan menyerahkan kekuasaan kepada mereka yang terdidik dan kompeten, kelas elit di masyarakat, ini adalah kaum Aritokrasi. Kaum Aristokrat itu memimpin berdasarkan Kolegium, kesepakatan bersama dalam membuat peraturan, dalam hal ini semacam DPR yang terdiri dari orang-orang pintar dan negarawan.

Kembali lagi, sejarah mencatat, diawalnya mereka memerintah dengan bijak, seperti para Aristokrat zaman awal kemerdekaan Indonesia, zaman perjuangan Amerika ketika perang saudara, bahkan dan banyak lagi pendiri suatu bangsa yang membangun dari reruntuhan kekuasaan Tirani, semuanya menjalankan dengan kebijaksanaan mereka, karena mereka tahu menderitanya dibawah tekanan Tirani.

Tapi dalam beberapa generasi, bahkan bukan generasi pergantian periode 5 tahunan, atau 10 tahunan, mereka mulai membuat kebijaksanaan diantara sesama mereka, kemufakatan, bisnis dan mulai menimbun kekayaan. Para Aristokrat bekerjasama saling menulis ulang hukum untuk menguntungkan diri mereka sendiri dan kelompoknya, rakyat, masyarakat, netizen mulai dilupakan, kebaikan bersama adalah untuk sesama penguasa, sesama Ketua Partai, sesama anggota partai, biasanya media itu diatur dan rakyat yang kritis dibungkam dengan peraturan.

Para Aristoktat ini pada awalnya adalah orang Pintar, namun seterusnya adalah mereka yang tidak punya moral karena kerakusan dan kenikmatan berkuasa. Sekali lagi, rakyat bangkit dan membawa revolusi, pemerintah dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat, ini adalah sistem Demokrasi.

Sistem Aristokrasi yang biasanya dipilih dikalangan mereka sendiri berubah menjadi suara rakyat, 1 orang 1 suara dan untuk berkuasa, penguasa atau para calon   pemimpin harus memenangkan Voting/suara, kepemimpinan menjadi kontes popularitas, setiap pemimpin baru berkampanye melawan pemimpin sebelumnya.

Ternyata sistem demokrasi selalu menghasilkan masyarakat yang terbelah, Residu sisa-sisa Voting yang lalu masih membekas. Bahkan, kedepan mereka berusaha membuat diri mereka bersinar dan sekali lagi mematikan lawan politiknya.

Demokrasi selalu memecah belah masyarakat lebih dalam, semakin lama demokrasi, semakin pecah masyarakatnya. Saat kekacauan itu terjadi, maka ada orang kuat merebut momentum dan mengambil kekuasaan agar dia menjadi berkuasa, karena demokrasi ditutup dengan demokrasi, akan membuat kontes populer yang fake, yang palsu, citra diri palsu, mencitrakan diri Family Man, mencitrakan dirinya sudah selesai, mencitrakan diri wakil wong ndeso, mencitrakan wakil orang kecil, apapun itu, hanya manis-manis lambe, agar mendapat simpati pemilih, dan ketika berkuasa ya sudah, kebijakannya adalah untuk dirinya dan kelompoknya agar berkuasa selamanya. Dan parahnya demokrasi, karena popularitas yang dipilih bukan otak, bukan kepintaran, bukan keterampilan, bukan prestasi orangnya, semua itu nggak penting, yang terpenting orang itu terkenal dan dicitrakan orang baim Family Man !

Demokrasi yang kacau selalu tumbang dengan lahirnya tokoh karismatik, yang merebut momentum tersebut, dia biasanya Raja Panggung, dia jago manajenen tim, dia memiliki kemampuan mempengaruhi yang kuat, dia mengambil kekuasaan dari demokrasi untuk menjadikan dirinya berkekuatan Absolut, menjadikan dirinya Diktator kalau jelek. Orang itu semacam Fidel Castro, Ferdinand Marcos dan lain sebagainya, ada banyak.

Ada lagi tokoh dunia karismatik yang akhirnya menjadi pemimpin Absolut juga, namun tidak jelek, tidak Diktator, dia disebut orang yang Otoriter. Otoriter itu diktator karena Pro Rakyat, seperti Xi Jinping dia Otoriter, Vladimir Putin itu Otoriter, Lee Kwan Yew itu Otoriter Pro Rakyat. Penting sesekali pemimpin Otoriter itu yang pro rakyat berkuasa, apalagi di IQ 78, namun ada lagi syaratnya, korupsi itu harus dihukum mati seperti di Tiongkok atau Singapura, lain lagi kalau Rusia, dieksekusi tanpa sidang sama Putin.

Dalam kasus Diktator, kemudian dirinya mengklaim menjadi Raja biasanya, ini masih terjadi sekarang, ini terjadi juga di negara berpendidikan rendah rakyatnya. Dan saat ini dibanyak negara-negara Afrika hal ini sampai sekarang masih terjadi, dan dimana kemudian anaknya atau turunannya berkuasa, mulai bertingkah dan siklus itu pun berulang kembali, digulingkan lagi.

Jadi, pemerintahan itu bukan tentang sistem, namun tentang sifat ego manusia yang membawa cacat bawaan pabrik, ini kata seorang Machiavelli loh ya. Dan kalau merenung ke Indonesia, di Indonesia itu Revormasi sudah kejauhan, sudah kebablasan, perlu perubahan, mungkin perlu tokoh Otoriter baru kedepan, siapa ya kira-kira tokoh itu ?. (**)

Sebelumnya

Bapak Lumpuh, Anak Korban Bullying

Selanjutnya

Kejati Bengkulu Usut Dugaan Korupsi PLTA Musi

admin
Penulis

admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bravo News Online
advertisement
advertisement

You cannot copy content of this page