APBD Bergeser Bengkulu Bergerak
Pojok Ekonomi Riswan Saya selalu melihat APBD Bengkulu bukan sekadar deretan angka. Bagi saya, APBD adalah cermin pilihan apa yang dikurangi, apa yang dipertahankan dan ke mana uang rakyat […]
Pojok Ekonomi Riswan
Saya selalu melihat APBD Bengkulu bukan sekadar deretan angka. Bagi saya, APBD adalah cermin pilihan apa yang dikurangi, apa yang dipertahankan dan ke mana uang rakyat diarahkan.
Mencermati analisis belanja Pemprov Bengkulu 2021–2026, saya melihat perubahan arah yang cukup jelas sejak 2025, ketika Gubernur Bengkulu Helmi Hasan mulai memimpin.
Lihat saja perjalanan dinas. Pada 2024 anggarannya mencapai Rp.155,77 miliar. Setahun kemudian turun menjadi Rp.80,05 miliar lalu kembali turun menjadi Rp.53,16 miliar pada 2026.
Belanja iklan, reklame, film dan pemotretan juga turun tajam dari Rp.56,05 miliar pada 2024, menjadi Rp.7,78 miliar pada 2025, dan Rp.4,56 miliar pada 2026.
Lalu uangnya bergerak ke mana?
Salah satu jawabannya terlihat pada infrastruktur.
Belanja modal jalan, jaringan dan irigasi mencapai Rp.550,32 miliar pada 2025. Pada 2026, pemeliharaan jalan, jaringan dan jembatan mencapai Rp.34,65 miliar, angka tertinggi dalam enam tahun. Sementara pemeliharaan gedung dan bangunan berada di Rp.12,74 miliar.
Bagi saya, ini bukan sekadar perubahan angka. Ada perubahan cara melihat prioritas. Belanja yang bisa ditekan dikurangi, sementara ruang untuk aset dan infrastruktur publik diperbesar.
Di titik ini, saya melihat Gubernur Helmi Hasan sebagai pemimpin yang visioner dalam membaca arah pembangunan membatasi sebagian belanja operasional dan memberi ruang lebih besar bagi pembangunan yang manfaatnya bisa dirasakan langsung masyarakat.
Tentu, visi harus dibuktikan. Jalan harus berkualitas, pekerjaan harus tepat waktu, anggaran harus transparan dan hasil pembangunan harus benar-benar sampai kepada masyarakat.
Karena APBD bukan lomba menghabiskan anggaran. APBD adalah bagaimana setiap rupiah uang rakyat kembali menjadi manfaat bagi rakyat.
Saya mendukung arah pembangunan ini untuk terus dilanjutkan dan diperkuat. Sebab Bengkulu membutuhkan pembangunan yang bukan hanya besar di atas kertas, tetapi terlihat, terasa dan menggerakkan ekonomi.
Anggaran boleh bergeser. Prioritas boleh berubah. Tetapi ketika uang rakyat diarahkan untuk membuka jalan, memperkuat infrastruktur dan menggerakkan ekonomi di situlah APBD menemukan maknanya.
Bengkulu tidak cukup hanya membangun. Bengkulu harus bergerak. Dan ketika pembangunan mulai terasa di jalan, di desa dan di denyut ekonomi masyarakat, di situlah visi seorang pemimpin menemukan buktinya.
* Sidomulyo – September Ceria










