Dedy-Ronny Menjaga Janji: Menjahit Jalan, Menata Kota, dan Menjaga Harapan – Kota Ini Rumah Kita
* Oleh Anto Jeger, Jurnalis Bengkulu Februari 2025. Istana Negara. Presiden Prabowo Subianto menyebut satu nama. Langkah itu maju. Seorang putra daerah. Dr. Dedy Wahyudi. Di sampingnya, Ronny PL Tobing. […]
* Oleh Anto Jeger, Jurnalis Bengkulu
Februari 2025. Istana Negara.
Presiden Prabowo Subianto menyebut satu nama. Langkah itu maju. Seorang putra daerah. Dr. Dedy Wahyudi. Di sampingnya, Ronny PL Tobing.
Tidak ada pesta pora. Tidak ada karpet merah yang harus diinjak lama-lama.
Hari itu juga, keduanya pulang. Dengan satu beban yang tidak terlihat di pundak, tapi terasa berat di dada: janji. Janji yang dititipkan warga di setiap gang buntu, di setiap warung kopi, di setiap doa ibu-ibu yang menatap jalan depan rumahnya yang hancur.
Dan, janji itu sudah tidak lagi tergantung di spanduk.
Ia sudah bisa diinjak. Sudah bisa dilintasi. Sudah bisa membuat mata berkaca-kaca.
JAHITAN PERTAMA PADA LUKA YANG BERNAMA JALAN
Coba kau tutup mata. Dan ingat Villa Taman Surya II.
Bagaimana rasanya menunggu, bukan sehari dua hari. Tapi tahun. Debu kemarau yang masuk ke dalam nasi. Debu yang membuat anak-anak batuk sepulang sekolah. Lumpur hujan yang menelan sendal jepit sampai mata kaki. Jalan itu bukan sekadar rusak. Ia adalah luka yang menganga. Ia memutus rezeki ojek, memutus langkah anak sekolah, memutus harapan.
Lorong itu bernama Jalan Teratai. Kebun Roos RT 17, RW 03, Teluk Segara. Ada juga Jalan Letkol Santoso, arah Pantai Zakat. DULU, fotonya masih kita simpan. Coba lihat, tanah kuning, batu lepas, lubang-lubang dalam seperti mata yang menangis. Jalan yang mengajarkan kita untuk selalu menunduk, karena takut tersandung.
Sekarang, buka matamu. Lihat SEKARANG.
Hitam. Legam. Rata. Mulus. Wangi aspal hotmix yang masih hangat. Motor tidak lagi mengerem mendadak. Mobil bisa masuk sampai ke depan pintu, sampai ke depan dapur.
Di situlah seorang warga dari Kebun Ros RT 07 berdiri, di depan kamera HP yang bergetar. Jempolnya terangkat. Suaranya parau, menahan haru yang sudah lama dipendam.
“Kami warga Kelurahan Kebun Ros, Kelurahan Teratai RT 7 mengucapkan terima kasih kepada Bapak Wali Kota dan Bapak Wakil Wali Kota karena sekarang jalan kami udah bagus lancar. Sebelumnya susah lah jalan, apalagi berlobang-lobang. Mudah-mudahan sehat selalu dan mudah rezeki. Pak Wali Kota Camkoha!”
Kata itu keluar bukan dari naskah. Tapi dari perut yang kenyang karena jalannya sudah bagus.
Per 31 Desember 2025, 61 ruas jalan sudah dijahit mulus. Bukan sulap. Itu baru jahitan pertama dari 1.000 Jalan Mulus. Tahun 2026, 200 ruas lagi akan menyusul. Bahkan 180 link jalan baru sudah disiapkan. Dari RT 32 Sidomulyo, Gang Serasan Surabaya, sampai Padang Serai Poros. Kota ini sedang dijahit, gang demi gang, agar tidak ada lagi yang tertinggal gelap.
“Alhamdulillah. Ini wujud kerja nyata untuk membuat warga lebih nyaman dan bahagia,” bisik Dedy. Lirih. Tapi sampai ke lorong-lorong.
KETIKA HUJAN TAK LAGI BERARTI CEMAS!
Orang Bengkulu hafal betul aroma hujan. Bukan wangi tanah basah. Tapi aroma cemas. Air masuk ruang tamu. Kasur diangkat. Anak-anak tidak berangkat sekolah.
Maka Dedy-Ronny tidak hanya mengaspal di atas. Mereka membelah tanah di bawah. 21 drainase baru digali, 31 drainase lama dinormalisasi. Dari Betungan yang becek, Pagar Dewa yang langganan banjir, Gandaria, Panorama, sampai Merapi Ujung. Air akhirnya diberi jalan pulang, bukan jalan masuk ke rumah warga.
Dan ada satu jembatan yang jika kau dengar ceritanya, kau akan menahan napas: Jembatan Bersejarah Kebun Tebeng di Merapi Raya. Rp 3 Miliar. Tapi nilainya bukan uang. Ia adalah penantian belasan tahun. Setiap hujan besar, warga berdiri di tepi, menatap air coklat yang menggerus tiangnya, menatap jembatan yang berderak, menatap anak-anak yang tidak bisa lewat. Derak itu telah hilang. Diganti bunyi motor yang melintas dengan tenang.
MARTABAT DI PESISIR DAN ANGKA YANG MENGHIDUPI DAPUR
Pembangunan yang paling haru sering tidak ada di jalan protokol. Ia ada di pesisir. Di Sumur Meleleh dan Teluk Sepang. Di rumah papan yang dindingnya tipis.
Di sana, 400 lebih kepala keluarga akhirnya bisa bernapas lega. Mereka dapat septic tank gratis. Mungkin terdengar sepele di kota. Tapi di pesisir, itu adalah martabat. Tak lagi buang limbah sembarangan. Air sumur yang mereka timba untuk masak, kini tidak lagi bercampur kotoran. Anak-anak mereka terhindar dari stunting. Itu bukan proyek. Itu adalah kasih sayang.
Lalu ada angka yang kalau kau baca, dadamu sesak: Kemiskinan turun dari 13,76% menjadi 11,91%. Turun 1,85%. Di atas kertas nasional, itu 3 kali lebih cepat. Tapi di dapur-dapur Bengkulu, artinya ada ibu yang akhirnya bisa menambah sepotong ikan di piring anaknya. Ada bapak yang bisa membayar SPP tanpa harus meminjam.
Ada Zona Hijau Tertinggi Ombudsman RI 2025, RS Harapan dan Doa dengan nilai 88,68 yang sangat baik. Ada 58 rumah tidak layak huni di 8 kecamatan yang dibedah, masing-masing Rp20 juta. Ada 19 rumah korban kebakaran di Pengantungan yang dibangun kembali bersama Pemprov. Ada 17 gedung direhab, Pasar Barukoto 1 dan 2, sekolah-sekolah yang kini dapat Smart TV dari Presiden.
Dan ada yang paling lembut untuk para ibu: RS Ibu Anak Tino Galo (RSTG) telah melayani BPJS GRATIS. 24 jam IGD-nya menyala. Dokter spesialisnya berjaga. Kelak ada program bayi tabung. Rumah sakit untuk ibu dan anak, tapi pintunya terbuka untuk siapa saja yang butuh ditolong. Karena bagi Dedy, kota yang maju adalah kota yang tidak membiarkan ibunya menangis sendirian.
Semua itu bermuara pada satu napas: Bengkulu BISA: Bersih, Indah, Sejuk, Aman.
SIANG TERIK DI PENURUNAN
Suatu siang, matahari di Jalan Fatmawati, Kelurahan Penurunan, begitu terik sampai aspal terlihat memantulkan cahaya.
Dedy Wahyudi turun lagi. Tanpa seremoni. Hanya dengan Satpol PP dan staf PUPR. Keringatnya menetes. Ia berhenti di depan galian trotoar baru yang mirip Belungguk Point.
Matanya menangkap pot semen dan besi yang menghalangi.
“Ini kan trotoar. Trotoar itu untuk pejalan kaki. Maka tidak boleh ada pot. Tak boleh ada yang menghalang. Besi juga ini dihilangkan,” katanya. Tidak marah. Tegas.
Lalu ia melirik toko warga, rumah warga. Trotoar barunya tinggi. Mobil warga tidak bisa naik.
“Kita bantu untuk naik mobilnya. Jadi kita bikin landai,” ujarnya.
Lalu ia menatap pelaksana. Suaranya pelan, tapi semua yang di sana diam:
“Jangan berpikir karena ini proyek pemerintah terus asal jadi, jangan.”
Ia ingin trotoar Penurunan satu napas, satu motif, dari Simpang Lima sampai ke dalam. Bukan per spot. Jika ada bangunan warga yang sudah terlanjur ada rangka besi, jangan dirobohkan.
“Sayang karena sudah dibangun. Kita tempel tapi tetap satu kesatuan supaya masyarakat tidak terganggu.”
Di situlah kita paham, bagi Dedy, membangun bukan soal siapa yang paling kuat merobohkan. Tapi siapa yang paling tulus merangkul. Siapa yang paling mau menunduk untuk membuatkan jalan yang landai untuk mobil tetangganya.
BELUNGGUK POINT: KETIKA DUNIA HANYA ADA DI BENGKULU.
Lalu kota ini berubah.
Di Jalan S Parman Padang Jati, kalau kota lain memakai bola-bola beton, Bengkulu menggantinya dengan ornamen Dol. Satu-satunya di dunia. Hanya di Kota Bengkulu. Dedy menamainya *Belungguk Point.
“Saya bisa pastikan, trotoar yang berjejer alat musik DOL satu-satunya di dunia hanya di Kota Bengkulu. Dimana lokasinya? Belungguk Point,” katanya, matanya berbinar.
Ornamen itu mirip Dol, tapi dari semen. Tidak bisa dipukul. Tapi bisa diduduki. Anak-anak bisa duduk di atasnya. Ratusan berjejer. Saat malam, lampu-lampu menyala, kuning, putih, gemerlap. Kota ini seperti bermandikan cahaya, seperti memakai kebaya baru.
Malam launching, ribuan warga tumpah ruah. Mereka datang bukan karena diundang RT. Mereka datang karena rindu. Rindu melihat kotanya cantik. Begitu lampu dinyalakan, “Bismillah,” semua takjub. Tepuk tangan pecah. Lalu 500 Dol kolosal ditabuh bersamaan. DUNG… DUNG… DUNG… Getarannya sampai ke dada. Getarannya sampai ke ubun-ubun. Para penabuh Dol dari sekolah dan sanggar berkeringat, tapi tersenyum.
Di pinggir jalan, UMKM tersenyum bahagia. Dagangannya habis. Gorengan ludes, es teh habis, batik besurek laku. Senyum mereka bukan senyum karena uang. Tapi senyum karena merasa kotanya akhirnya dilihat orang. Senyum karena merasa dagangannya laku karena kotanya ramai.
Langit pun menjaga. Cerah. Tidak hujan. Selesai acara, baru hujan turun pelan. Seolah alam berkata: Aku ridho. InsyaAllah Allah ridho.
Malam itu Dedy berbisik, “Ratusan bahkan ribuan unit lampu tersebut sangat sensitif. Kalau tangan jahil, maka akan mati. Tinggal lagi kesadaran warga. Sama-sama kita jaga. Kota ini rumah kita. Milik kita bersama. Kita rawat bersama. Kalau Kota Kita Maju, Kita juga yang senang dan bangga.”
100 GAZEBO GRATIS, 300 LAMPU, DAN 10.000 KELAPA
Setelah S Parman, matanya menatap Pantai Panjang.
Ia mendengar keluhan yang sudah lama: duduk di pondok kayu dipaksa bayar sampai Rp 1 Juta. Penjualnya tidak ramah.
Maka ia membangun 100 Gazebo Gratis.
“Di pondok/Gazebo ini wisatawan bebas menempati. GRATISSSS…. Tidak boleh dipungut biaya satu rupiah pun. Duduk di sini saja. Jangan lagi duduk di pondok yang maksa bayar,” tegasnya.
Tahap awal 5 gazebo dibangun di depan Hotel Nala Sea Side. Ukuran 3×4, 2×5, 2×7. Tiangnya dari pohon kelapa, biar tidak lapuk dimakan garam. Rangka kayu, atap asbes. “Jangankan besi, orang aja lama-lama bisa karatan,” candanya, semua tertawa. Di sana ada WC umum. Pagi dan sore, komunitas Yoga menggelar matras.
Lalu Simpang Pantai Berkas dipoles dengan Taman Kerapu, dengan patung ikan kerapu raksasa sebagai ikon. Jogging Track di break water direvitalisasi, agar orang tidak lagi lari di jalan raya, takut disambar mobil. 300 titik lampu dinyalakan terang benderang untuk Festival Tabot. Dulu warung tuak remang-remang di sana, tempat orang mabuk, kini sudah dirobohkan. Yang tersisa hanya cahaya. Yang tersisa hanya tikar yang bisa digelar gratis di Pasir Putih.
Dan yang paling romantis: HUT RI ke-80 akan menjadi sejarah GEMPALA: Gerakan Menanam 10.000 Kelapa di Pantai Panjang. ASN membawa minimal 1 bibit, terkumpul 6.000, ditambah instansi vertikal, pelaku usaha, Kapolda yang sudah komitmen, kampus se-Provinsi Bengkulu.
Jumat 8 Agustus lobang disiapkan, Jumat 15 Agustus jam 08.00 WIB tanam serentak. Warga sepanjang pantai ikut menjaga, merawat, hingga kelak berbuah. Bahkan beberapa pohon yang ditanam sudah siap panen. Seperti menanam harapan yang langsung bisa diminum airnya.
BROKOT: DARI KOTA MATI MENJADI KOTA YANG HIDUP
Di Kota Lama, Pasar Baru Koto I (atas) yang legend. Tempat sejuta kenangan. Pusat fashion, mainan anak, busana muslim, jajanan paling favorit di masanya. Kini sepi. Hening. Seperti kota mati. Tidak ada yang salah. Penduduk pindah ke Selebar dan Kampung Melayu.
Maka Dedy tidak meratapinya. Ia menghidupkannya kembali.
Pedagang di pelataran bawah dinaikkan ke lantai 2. Eks lokasinya jadi parkir. Etalase seragam seperti food court di mall Jakarta. Dari lantai 2 itu, kalau kau duduk, ke timur kau melihat Benteng Marlborough yang kokoh dan pantai, ke selatan kau melihat Gedung Daerah peninggalan Gubernur Jenderal Inggris, Polres, gedung BI dan Pintu Batu, ke barat kau melihat Masjid Agung Muttaqin dan toko-toko legend Penurunan.
Agar dekat dengan anak muda, Pasar Baru Koto di-rebranding menjadi BROKOT. Biar kekinian. Biar Gen-Z mau nongkrong. Kampung China direvitalisasi menjadi food street dengan lampion yang bergoyang.
Nanti, setelah eks Mess Pemda menjadi Kantor Walikota, kawasan itu akan ramai lagi. Dan Kota Lama tidak lagi sepi.
Penataan pasar berlanjut ke Pasar Ikan, Pasar Minggu, Pasar Panorama. Lapak-lapak yang dulu di badan jalan, di trotoar, lahan parkir yang disewakan ke pedagang, dibongkar sendiri oleh pedagang dengan cara persuasif, humanis. Kini jalan lebih luas, lapang.
Lanjut ke KZ Abidin 1, lapak dipindahkan ke PTM dan Mega Mall, trotoar dipercantik lampu. KZ Abidin 2 samping Telkom, pusat kuliner, ditata rapi, bersih dan semarak saat malam.
KOTA INI RUMAH KITA
Bengkulu punya segalanya: pantai, sejarah, kuliner, Hanya belum dikemas. Hanya belum diceritakan dengan cara yang benar.
Maka Dedy mengajak Gen-Z: “Bantu eksplor wisata Bengkulu dengan cara kalian.” Bukan dengan baliho besar. Tapi dengan konten. Dengan video FYP. Belajar dari pacu jalur yang viral karena aura farming bocah sampai mendunia.
Pokdarwis diaktifkan, harus ramah. Tidak ada lagi kelapa muda Rp 50.000. Hotel juga harus bersahabat.
Program One OPD One Event dibuat. Setiap OPD harus membuat satu event yang mendatangkan orang. Tujuannya sederhana, tapi haru: hotel penuh, rumah makan ramai, oleh-oleh laku, batik besurek laku. Agar perputaran uang tetap di Bengkulu.
Bahkan 3 Februari 2026, Dedy diundang Komisi X DPR RI. Di sana ada Dewi Coryati dan Puti Guntur Soekarno, cucu Fatmawati Soekarno. “Bu Fat juga keturunan Kesultanan Indra Pura, Mukomuko,” kata Puti. Dedy mengundang mereka pulang. Mengundang Puan Maharani juga. Agar Bengkulu mendapat perhatian pusat untuk cagar budaya.
Semua ini tidak akan terjadi kalau hanya pemerintah sendiri.
Maka Dedy menulis satu renungan yang kini menjadi penutup di setiap pertemuan, tulisan yang ia ketik sendiri:
“Jauhi sifat iri, dengki, hasad, hasud. Kami senang jika ada yang memberi masukan/kritik. Namun yang konstruktif. Bukan didasari kebencian. Mari kita bersama bangun Bengkulu. Jadilah tuan rumah yang ramah. Buat semua orang terkesan dengan Bengkulu. Yang membuat mereka rindu dan ingin kembali lagi datang ke Bengkulu.”
“Kalau tidak kita bangun Bengkulu, siapa lagi? Kalau tidak kini kita bangun Bengkulu, kapan lagi?”
Kota Bengkulu akan terus dibangun. Pantai Panjang, Danau Dendam, Kampung China masih akan dipoles.
Sekarang ini, kalau kau lewat Jalan Teratai yang sudah mulus, yang tidak lagi berdebu, kalau kau duduk di gazebo gratis di Pantai Panjang yang tidak lagi dipungut biaya, kalau kau melihat lampu-lampu Belungguk Point yang menyala dan mendengar samar tabuhan Dol yang masih terngiang di telinga, kau akan mengerti satu hal.
Ini bukan sekadar membangun Kota Bengkulu.
Ini tentang membangun perasaan dicintai oleh kotanya sendiri.
Itulah cara Dedy-Ronny menjaga janji.
Karena bagi mereka, sejak hari pertama dilantik, Kota Bengkulu Ini Rumah Kita.








