Pembangunan Trotoar Penurunan Mirip Belungguk, Walikota Bengkulu: Jangan Asal Jadi!
BENGKULU, – Walikota Bengkulu Dr. Dedy Wahyudi turun langsung meninjau pembangunan trotoar di kawasan Jalan Fatmawati Kelurahan Penurunan yang mirip dengan kawasan Belungguk Point. Dalam sidak tersebut, Walikota menegaskan pembangunan […]
BENGKULU, – Walikota Bengkulu Dr. Dedy Wahyudi turun langsung meninjau pembangunan trotoar di kawasan Jalan Fatmawati Kelurahan Penurunan yang mirip dengan kawasan Belungguk Point.
Dalam sidak tersebut, Walikota menegaskan pembangunan trotoar tidak boleh asal jadi. Harus memikirkan fungsi utama sebagai jalur pejalan kaki dan tetap satu kesatuan dengan bangunan milik warga yang sudah ada.
“Jangan berpikir karena ini proyek pemerintah terus asal jadi, jangan,” tegas Dedy Wahyudi di lokasi.
Walikota yang didampingi Satpol PP menyoroti sejumlah penghalang di atas trotoar yang harus dihilangkan.
“Ini kan trotoar kan. Nah trotoar itu untuk pejalan kaki. Maka tidak boleh ada pot. Tak boleh ada yang menghalang. Besi juga ini dihilangkan,” ujar Dedy sambil menunjuk pot dan besi pembatas.
Ia juga meminta agar akses kendaraan warga tetap diperhatikan. Trotoar yang tinggi di depan rumah atau toko warga harus dibuat landai agar mobil bisa naik.
“Kita bantu untuk naik mobilnya. Jadi kita bikin landai,” katanya.
*Harus Satu Kesatuan, Bukan Per Spot*
Dedy menekankan konsep pembangunan trotoar Penurunan harus sama seperti kawasan Belungguk Point yang sudah dibangun sebelumnya. Motifnya harus menyatu, tidak putus-putus.
“Kalau motif biar satu kesatuan. Sekitar dua senti, sesuaikan saja, tambah dua senti gitu kan, jadi seolah-olah satu kesatuan,” instruksikan Dedy kepada pelaksana.
Menurutnya, dari Simpang Lima hingga masuk ke kawasan Penurunan, jalan sudah bagus, kiri-kanan harus dilengkapi trotoar yang utuh untuk pejalan kaki.
“Memang satu kesatuan yang kita bangun, bukan per spot tapi memang keseluruhan gitu loh,” tegasnya.
Walikota juga meluruskan isu soal teknik “tambah daging” atau menempelkan adukan baru di atas bangunan lama. Ia mengingatkan pengawasan itu penting agar tidak pecah.
“Kita mau nambah daging nih langsung kita tempel pasti pecah dia. Pengawasan penting,” ujarnya.
Untuk bangunan trotoar yang sudah terlanjur dibangun masyarakat secara swadaya dengan rangka besi, Dedy meminta tidak dirobohkan. Cukup ditempel dan disesuaikan agar tetap satu kesatuan dan tidak mengganggu aktivitas warga.
“Nah kita merobohkannya sayang karena sudah dibangun dari rangka besi. Yang ada ini kita tempel tapi tetap satu kesatuan supaya masyarakat tidak terganggu,” pungkasnya.
Sidak ini sekaligus memastikan pembangunan trotoar di Penurunan berjalan sesuai konsep: jalan bagus, trotoar aman untuk pejalan kaki, dan akses warga tetap dibantu. (Jeger).









