Walikota Dedy Wahyudi Dorong Kelurahan Bentuk BUMKEL
BravoNews, – Inovasi pengolahan sampah basah menjadi bernilai ekonomi ditemukan di Kelurahan Padang Serai, Kota Bengkulu. Sampah sisa makanan rumah tangga diolah menjadi magot untuk pakan ternak. Walikota Bengkulu, Dr. […]
BravoNews, – Inovasi pengolahan sampah basah menjadi bernilai ekonomi ditemukan di Kelurahan Padang Serai, Kota Bengkulu. Sampah sisa makanan rumah tangga diolah menjadi magot untuk pakan ternak.
Walikota Bengkulu, Dr. Dedy Wahyudi mengatakan, praktik tersebut bukan sekadar teori melainkan fakta yang sudah berjalan dan bisa dicek langsung di Padang Serai.
“Kita harus memulai dari sekarang! Ini bukan teori. Tapi fakta yang bisa dicek ke Padang Serai. Sampah basah sisa makan rumah tangga, diolah jadi magot. Ulat (magot) ini kemudian jadi umpan (pakan) ternak. Bisa lele, bebek, ayam dan lainnya,” ujar Dedy Wahyudi.
Sosok di balik inovasi itu adalah Yudi Widiansyah, pegawai Dinas Perhubungan Kota Bengkulu. Warga Padang Serai akrab memanggilnya Yudi Bebek. Pegawai yang masih muda, energik dan sangat kreatif itu memiliki ternak bebek hingga 2.000 ekor. Dari ternak tersebut, pendapatannya bahkan mengalahkan gajinya sebagai PNS.
Dedy mengaku penasaran bagaimana Yudi bisa sukses membangun usaha ternak bebek dengan pakan dari sampah basah. Setelah mengunjungi langsung kediamannya, ia melihat proses pengolahan sampah menjadi magot berjalan efektif.
“Saya penasaran bagaimana dia bisa sukses membangun usaha ternak bebek yang pakannya dari sampah basah. Ternyata benar! Saya ditunjukkan proses sampah basah jadi magot. Dalam sebulan Yudi menghabiskan 2 Ton sampah basah,” jelasnya.
Menurut Yudi, jika ada 10 warga lain yang memiliki usaha serupa, maka 20 ton sampah basah tidak perlu dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Hal itu sejalan dengan program Pemerintah Kota Bengkulu untuk mewujudkan kota bersih dari sampah.
“Kalau ada warga lain punya usaha seperti saya, maka 20 ton sampah basah tidak perlu dibuang ke TPA. Ini juga membantu program Pak Wali agar Kota Bengkulu bersih dari sampah,” ujar Yudi.
Dedy menegaskan, sebagian orang masih tidak percaya sampah basah bisa menghasilkan uang, namun Yudi telah membuktikannya. Selama 10 tahun menggeluti usaha tersebut secara mandiri hanya dengan belajar dari Youtube, tanpa sentuhan pemerintah, Yudi berhasil.
Yudi juga dikenal tidak pelit ilmu. Ia kerap berbagi pengetahuan, bahkan membagikan bibit bebek, indukan magot, dan cairan EM4 agar sampah tidak berbau bagi warga yang ingin belajar.
Melihat potensi tersebut, Dedy telah menginstruksikan seluruh camat se-Kota Bengkulu untuk mengadopsi apa yang dilakukan Yudi. Ke depan, setiap kelurahan akan diarahkan memiliki program pembuatan magot dan ternak lele serta bebek.
“Saya membagikan ke seluruh camat se Kota Bengkulu agar mengadopsi apa yang dilakukan Yudi. Maka ke depan akan ada program di setiap kelurahan proses pembuatan magot dan ternak lele dan bebek,” tegasnya.
Pemerintah Kota Bengkulu akan melakukan intervensi melalui dana kelurahan untuk program pengolahan sampah menjadi nilai uang. Program tersebut bisa dijalankan melalui Kelompok Masyarakat (Pokmas) atau individu yang benar-benar serius berusaha di bidang ternak.
“Pemerintah akan intervensi melalui dana kelurahan untuk program pengolahan sampah menjadi nilai uang. Bisa melalui Pokmas atau individu yang benar-benar serius untuk berusaha ternak lele dan bebek,” katanya.
Lebih lanjut, masing-masing kelurahan diarahkan untuk membentuk Badan Usaha Milik Kelurahan (BUMKEL). Setiap kelurahan diberi ruang untuk mengeksplorasi keunggulan masing-masing, baik di bidang peternakan, budi daya ikan, maupun industri jasa dan perdagangan.
“Ke depan masing-masing kelurahan diarahkan untuk membentuk BUMKEL. Masing-masing kelurahan diberi ruang untuk mengeksplorasi keunggulan masing-masing. Apakah di bidang peternakan, budi daya ikan atau industri jasa dan perdagangan,” tutup Dedy. (Jeger)










