Dibalik Penataan Taman Remaja: Jurus Selamatkan Ekonomi UMKM dari Mati Suri
BENGKULU, – Di saat banyak proyek penataan ruang publik di Indonesia membunuh ekonomi rakyat kecil, Pemerintah Provinsi (Pemprov) melalui Dinas PUPR Provinsi Bengkulu justru mengambil jalan berbeda dalam penataan Taman […]
BENGKULU, – Di saat banyak proyek penataan ruang publik di Indonesia membunuh ekonomi rakyat kecil, Pemerintah Provinsi (Pemprov) melalui Dinas PUPR Provinsi Bengkulu justru mengambil jalan berbeda dalam penataan Taman Remaja.
Pada pelaksanaan Mutual Check Nol (MC-0) 8 Oktober 2026 lalu, bukan hanya soal mengukur topografi dan luasan taman. Hal paling krusial yang dilakukan PUPR adalah menentukan titik relokasi sementara pedagang secara partisipatif, bersama pedagang itu sendiri.
Taman Remaja bukan taman kosong. Ia adalah mesin ekonomi mikro.
Data lapangan menunjukkan ratusan pedagang menggantungkan hidup di sana – penjual jagung bakar, sosis, minuman, mainan anak, hingga penyewaan permainan. Perputaran uang harian di sana ditaksir mencapai puluhan juta rupiah. Ini adalah nadi UMKM Kota Bengkulu.
Jika ditata dengan cara gusur, maka yang terjadi adalah Dead Economy Effect.
“Taman Remaja bukan sekadar taman. Ia adalah ekosistem ekonomi mikro. Dalam teori ekonomi perkotaan, kesalahan terbesar revitalisasi adalah mematikan nadi ekonomi lokal atas nama estetika,” tulis Tim Redaksi dalam analisisnya.
3 BENCANA EKONOMI YANG DICEGAH PUPR DENGAN RELOKASI PARTISIPATIF
1. Dead Economy Effect: Proyek penataan biasanya butuh 3-6 bulan. Jika pedagang tidak direlokasi, mereka menganggur 3-6 bulan. Tidak ada penghasilan, cicilan macet, anak tidak sekolah. PUPR mencegah ini dengan menyiapkan lapak sementara agar dapur tetap ngebul saat pembangunan jalan.
2. Inflasi Sosial & Premanisme Lapak: Kekosongan lapak selalu memicu perebutan. Siapa cepat dia dapat. Muncul pungli, premanisme, dan kapitalisasi liar oleh oknum. Dengan penentuan titik relokasi resmi yang disaksikan RT/RW, Dinas Pariwisata, Konsultan dan Pengawas, semua pedagang punya kepastian hukum. Tidak ada yang menyerobot.
3. Hilangnya PAD Pariwisata: Jika Taman Remaja tutup total, retribusi hilang, kunjungan wisatawan turun. Dengan relokasi, aktivitas tetap hidup, retribusi tetap masuk.
Kepala Dinas PUPR Provinsi Bengkulu, Tejo Suroso, menegaskan pendekatan ekonominya:
“Tim kami di lapangan pada MC-0 tidak hanya buka gambar kerja di atas paving block. Tapi kami ajak pedagang rembug. Mereka tidak digusur, tapi diajak musyawarah. Ini inklusi sosial, tapi dampaknya ekonomi. Tidak akan ada vandalisme karena mereka merasa ikut membangun,” jelas Tejo, Sabtu (18/10/2026).
“Penataan ini bagian dari program infrastruktur Gubernur Bengkulu. Taman Remaja yang baru nanti bukan hanya bersih, indah, nyaman, tapi harus jadi model revitalisasi ruang publik yang humanis dan menguntungkan UMKM,” tambahnya.
Secara ekonomi, ini adalah investasi, bukan biaya.
Setelah taman baru jadi dengan estetika lebih tinggi, penerangan lebih baik, dan fasilitas lebih lengkap, maka multiplier effect akan terjadi secara otomatis.
Kunjungan keluarga naik 2-3 kali lipat, Omzet pedagang naik, Daya beli naik, Lapangan kerja baru terbuka (parkir, kebersihan, event), PAD sektor pariwisata dan retribusi naik.
Ini yang disebut dalam ekonomi perkotaan sebagai Gentrifikasi Positif, kawasan naik kelas tanpa membunuh penghuni lamanya.
Jika proyek lain membangun taman indah tapi sepi karena pedagang mati, PUPR Bengkulu justru membangun taman indah yang sejak hari pertama sudah ramai karena pedagangnya diselamatkan sejak titik nol.
Inilah bedanya membangun dengan hati dan menghitung dengan otak ekonomi. (Jeger)








